Fenomena bakal calon independen pada perhelatan Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 nanti, nampaknya mendapat respon positif dari masyarakat di daerah-daerah yang juga akan menyelenggarakan Pilkada serentak 2017 nanti. Seperti kita ketahui bersama, Gubernur DKI saat ini Basuki Tjahaya Purnama atau familiar dengan panggilan Ahok telah mendeklarasikan diri bersama pasangannya untuk maju bertarung pada Pilgub 2017 nanti melalui jalur independen (non parpol). Pasangan petahana ini menjadi buah bibir lantaran harus rela bersusah payah mengumpulkan KTP warga Jakarta sebagai syarat dukungan untuk maju bertarung lewat jalur independen. Dilihat dari rekam jejak kepemimpinannya semenjak Ahok menggantikan posisi Jokowi sebagai Gubernur DKI, tentu mudah baginya untuk mendapatkan dukungan dari parpol walaupun beberapa statemen dan kebijakannya seringkali berseberangan dengan para anggota DPRD. Selain statusnya sebagai petahana, sosok Ahok di mata parpol adalah sosok yang dapat "menjual"dan berpotensi besar, apalagi di beberapa survei pra pilkada sebelumnya, namanya termasuk yang paling berpeluang merebut posisi DKI 1.Terlepas dari fenomena Ahok tersebut, di kota Pekanbaru provinsi Riau warga masyarakatnya pun memiliki perilaku politik yang hampir sama dengan apa yang terjadi di Jakarta. Hal ini terungkap pada hasil Survei Perilaku Pemilih warga Kota Pekanbaru pada periode bulan Maret 2016. Warga menyatakan pendapat ketika ditanyakan mengenai sikapnya jika seandainya calon walikota favoritnya maju melalui jalur independen ketika pilkada nanti. Survei Preferensi Pemilih ini dilaksanakan oleh lembaga riset dan survei nasional LAMDA Indonesia (Lembaga Aspirasi Masyarakat Daerah Indonesia). Metode yang digunakan pada kegiatan survei ini adalah Metode Jenjang Acak Bertingkat dimana sampel responden dipilih secara acak berdasarkan proporsional jumlah pemilih di setiap wilayah. Target responden surve ini adalah penduduk Kota Pekanbaru yang telah memiliki hak pilih sebanyak kurang lebih 600 warga yang diwawancarai langsung face to face mengenai perilaku dan sikap politiknya. Berikut hasil survei yang tergambar pada grafik dibawah ini.
Sikap politik sebagian besar warga kota Pekanbaru terhadap calon walikota favoritnya apabila maju melalui jalur independen adalah tetap akan memilih calon tersebut. Hal tersebut terpapar jelas pada grafik survei diatas. Sikap politik yang menyatakan tetap memilih calon tersebut dipilih oleh 40,4% warga. Sedangkan yang bersikap untuk memilih calon yang didukung parpol ataupun tidak akan memilih sama sekali hanya berjumlah 7,5% dab 2,9% saja. Walaupun warga yang tidak tahu atau belum menjawab juga masih banyak (49,2%), akan tetapi hal tersebut telah menjustifikasi fakta pada saat ini bahwa figur pemimpin lebih kuat pengaruhnya daripada faktor lainnya.
Istilah deparpolisasi, pelemahan partai politik atau apapun namanya, seharusnya janganlah menjadi ancaman namun harus menjadi perhatian bagi parpol untuk mengevaluasi program dan kinerjanya selama ini. Sudah bukan menjadi rahasia lagi jika calon pemimpin daerah yang berpotensi besar yang sanggup membangun daerahnya dan disukai oleh masyarakatnya gagal ikut pilkada karena ketiadaan dana untuk membeli kendaraan politik (parpol) guna persyaratan administrasi pencalonan dirinya. Memang fakta menyebutkan semenjak tahun 2004 saat pertamakali UU Otonomi daerah dikeluarkan sebagai cikal bakal pilkada di Indonesia, pasangan calon yang maju melalui jalur independen hanya sedikit yang memenangkan pilkada di masing-masing daerah pemilihannya. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, masyarakat dan calon pemimpin daerah sudah semakin pintar menyikapi fenomena jalur independen ini. Kini di tahun 2016 lewat Ahok dan Teman Ahok, mereka mencoba untuk merubah stigma citra negatif calon independen yang merupakan calon abal-abal, asal jadi, calon boneka, dsb menjadi calon yang bercitra positif yang berpotensi besar memenangkan pilkada di daerahnya. Yang dilakukan oleh Nasdem, Hanura dan mungkin ada beberapa parpol lainnya untuk mendukung pencalonan Ahok adalah suatu hal yang wajar saja terjadi. Apresiasi positif sepatutnya disematkan kepada beberapa parpol-parpol tersebut karena dengan gagahnya mengabaikan ego politis untuk mendukung calon walaupun berasal dari jalur non parpol. Semoga hal ini dapat menjadi preseden yang baik bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.
