Sosok Joko Widodo atau akrab dengan sebutan Jokowi yang saat ini masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, masih menjadi favorit dalam berbagai jajak pendapat menjelang dilaksanakannya pemilu presiden bulan Juli 2014 mendatang. Hal ini juga terungkap dalam rilis hasil polling mengenai pemilu legislatif dan pemilu presiden 2014 yang dilakukan oleh LAMDA Indonesia di 10 kota besar Indonesia. Polling ini dilakukan dengan metode wawancara via telepon dengan 850 responden yang tersebar secara proporsional di beberapa kota besar seperti kota Medan, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Makassar, Banjarmasin dan kota Balikpapan. Periode polling dilakukan antara bulan Januari hingga Februari 2014. Polling ini kerjasama antara Lamda Indonesia dengan berbagai jaringan dan mitra kerja yang terdapat di 10 kota besar di Indonesia.Opini masyarakat yang tercipta dari beberapa hasil jajak pendapat yang menghasilkan pencitraan atau imaji positif tersebut dengan cerdasnya dimanfaatkan oleh PDIP yang notabene adalah partai politik tempat bernaung Jokowi dalam aktivitas politiknya. Pada tanggal 15/3/14 lalu atau sehari sebelum masa kampanye terbuka untuk partai politik dan para calegnya, PDIP mengumumkan bahwa Jokowi adalah capres dari PDIP melalui memo tertulis yang dibuat oleh Megawati dan dibacakan oleh Puan Maharani sebagai ketua Bappilu PDIP. Cara atau strategi ini merupakan salah satu cara dari PDIP untuk mendongkrak perolehan suara partainya secara signifikan guna mendapat dukungan maksimal dari masyarakat pemilih pada Pileg 2014 April nanti. PDIP pernah menyatakan beberapa waktu lalu bahwa penetapan capres dari partainya akan diumumkan setelah melihat hasil dari pemilu legislatif. Hal ini menunjukkan bahwa PDIP melalui tim Bappilu atau konsultan politiknya dengan cerdas dan tepat memanfaatkan momen "Jokowi Effect" tersebut untuk meraih keuntungan dan sekaligus merebut suara dari rival kontestan partai politik lainnya.
Berikut hasil jajak pendapat melalu metode polling mengenai elektabilitas calon presiden Republik Indonesia periode 2014 - 2019.
Dari grafik hasil Polling mengenai tingkat elektabilitas capres dalam pilpres 2014, tokoh Gerindra Prabowo Subianto berada di urutan kedua pilihan responden setelah Jokowi dengan tingkat elektabilitas sebesar 14,3%. Disusul kemudian berturut-turut ARB (Aburizal Bakrie) 11,4%, tokoh non parpol Dahlan Iskan 6,9%, dan Wiranto sebesar 6,2% melengkapi lima besar capres favorit. Sedangkan responden yang menjawab lainnya sebesar 3,6% antara lain menyebut Pramono Edhie, Suryadharma Ali, Jusuf Kalla, Yusril Ihza Mahendra, Anies Baswedan, Abraham Samad, Anis Matta, Dien Syamsudin dan lain-lain sebagai capres alternatif pilihan responden.
Yang menarik adalah ketua PDIP yaitu Megawati Soekarno Putri hanya berada pada urutan 7 dalam Polling ini. Ini artinya responden yang memilih Jokowi berasal dari multi parpol dan ternyata bukan identik dari responden yang memilih PDIP saja. Tokoh non parpol yang paling tinggi adalah Dahlan Iskan yang berlatar belakang pengusaha media grup Jawa Pos. Menteri BUMN aktif ini mengungguli para tokoh non parpol lainnya yang juga akan bertarung dalam pemilihan presiden 2014 nanti. (moer/lamda-ksi/III)
